MENDUA
- Aug 4, 2016
- 1 min read

Apakah manusia baru benar-benar menyesal ketika ia mulai kehilangan orang yang mulai "tergantikan"?
Sering kali aku mendua.
Menduakan waktu.
Aku menduakan waktu curhatu pada Tuhan dengan hal-hal yang kuanggap lebih penting. Aku juga menduakan harapan keluargaku dengan menunda waktu mengerjakan skripsiku.
Lalu, apa lagi?
Andai aku tahu, sebelum nenekku pergi ke rumah Tuhan, dia selalu menunggu dalam rindu. Berharap teman curhatnya segera pulang di samping ranjangnya.
Aku menduakan kerinduannya. Lalu, aku menyesal..
Ketika memang kasih seutuhnya adalah bukan perjuangan sendirian. Ternyata, aku membiarkan mereka berjuang sendirian. Aku tak pernah tahu apakah mereka akan lelah atau tidak. Namun, diri ini rasanya tak sanggup untuk bertanya atau memohon agar mereka tetap berjuang untukku. Terlalu menyakitkan..
Mimpi terlalu nyaman untuk dijelajahi. Di balik itu semua, sampai-sampai (terkadang) kita lupa ada orang-orang yang berjuang dengan ketulusan kasihnya.

Comments