top of page

JOY DAN HUTAN PINUS

  • Jun 7, 2016
  • 1 min read

"Joy" illustration by Rachma Amalia

Kali ini Joy harus memutuskan: berjalan terus di rute beraspal atau kabur ke hutan pinus. Sama saja memilih untuk menjadi bosan atau bersabar. "Tinggal 30 menit lagi," kata Tuhan.

Rute beraspal seperti menikmati dirinya sendiri. Orang -orang sudah terlalu akrab karena, hanya lewat situ, kendaraan dengan mudah melintas dan menikmati setiap meternya.

"15 menit lagi.." singgung Tuhan.

Jujur saja, Joy lumayan lelah karena sering kali ia dehidrasi. Rute beraspal sering kali menyempitkan pandangannya, hingga Joy berpikir tujuannya serasa jauh.

"9 menit lagi," dan Tuhan masih sabar.

Joy mencintai hutan pinus.

Aku pernah terkesima mendengar cerita Joy yang mengaku bahwa ia lahir dari rahim pohon pinus bernama Valen. Syukurlah, ayahnya masih manusia, bukan alien.

Cinta yang terpendam sejak lama. Joy ingin tenggelam dalam hutan pinus dan menikmati setiap incinya.

"5 menit lagi," Tuhan sekadar mengingatkan.

Badan Joy mulai gemetar. Air pun keluar dari kelopak matanya.

Buyar!

Joy merasa rute beraspal terlalu sibuk membangun dirinya sendiri. Di sisi lain, Joy khawatir pada rute beraspal dan dirinya sendiri.

Hutan pinus semakin membuat Joy ingin menjelajahinya lebih dalam. Kunang-kunang pelangi melihat dari balik pohon pinus.

Tapi Joy masih saja terkurung pada rasa khawatirnya.

Joy takut terlena dan tak dapat bertemu lagi dengan rute beraspal.

Mendengar cerita Joy, aku kasihan.

"Yakinlah, hutan itu jaraknya takkan jauh dari rute beraspal. Aku rasa tidak ada salahnya berjalan melalui hutan pinus, jika itu memang dibuat khusus untukmu."

Joy tersenyum. Malam itu, tepat di hari ulang tahunku, ia melangkah masuk ke hutan pinus. Dari kejauhan mulutnya berbisik, "Selamat menua..."

 
 
 

Comments


bottom of page